Metode SRI

Definisi

System of Rice Intensification (SRI) merupakan pendekatan agroekologi dalam budidaya padi yang meminimalkan persaingan antar-tanaman, menanam bibit padi tunggal, menggunakan bahan organik, meningkatkan sirkulasi udara tanah, dan mengoptimalkan pengelolaan air untuk menciptakan kondisi optimal bagi pertumbuhan tanaman yang sehat. Praktik-praktik ini memungkinkan tanaman padi mengekspresikan potensi genetiknya secara lebih maksimal dan meningkatkan pertumbuhan tanaman dengan hasil panen hingga tiga kali lebih tinggi dibandingkan dengan metode budidaya konvensional, sambil meningkatkan ketahanan tanaman terhadap tekanan biotik dan abiotik.

SRI memodifikasi pertanian konvensional dengan berberapa cara diantaranya:

Umur sekitar 10-12 hari dan tidak lebih dari 15 hari.

Hal ini mendorong pertumbuhan akar yang sehat karena kompetisi nutrisi dapat dikurangi dan merangsang pertumbuhan anakan yang subur.

Ditujukan untuk meningkatkan kesuburan tanah dengan menghindari penggunaan pupuk kimia.

Mengganti metode tradisional yang menggunakan pengairan tergenang, sementara Irigasi intermiten mendukung pertanian berkelanjutan karena tanah menjadi lebih aerobik.

Pupuk bisa diaplikasikan di area-area yang kekurangan materi organik untuk memenuhi kebutuhan tanah dan tanaman. Namun, efektivitasnya akan meningkat jika cadangan materi organik dalam tanah juga ditingkatkan. Ketika sumber nutrisi organik terbatas atau tanah memiliki kekurangan tertentu, kombinasi nutrisi organik dan anorganik dapat dioptimalkan. Tujuannya bukan hanya mendukung pertumbuhan tanaman, tapi juga mendukung komunitas mikroba tanah.

Manajemen SRI pada sawah padi meliputi: (a) Penanaman kembali bibit yang berusia 10-12 hari. (b) Saat mempersiapkan tanaman, sebuah pola grid (25 × 25 atau 30 × 30 cm) dicirikan di permukaan sawah. Di setiap titik grid, hanya satu bibit yang ditanam. Setelah dikeluarkan dari persemaian, bibit segera ditanam dengan kedalaman kurang dari 1 cm. (c) Dalam hal manajemen tanah, permukaannya diaerasi menggunakan penggaruk dua baris atau cono-weeder setiap 10-12 hari hingga kanopi tertutup. Proses ini memberikan oksigen ke sistem akar dan ke biota tanah aerobik, sambil sekaligus mengendalikan gulma. (d) Untuk manajemen air, tanah dijaga agar tetap lembab tetapi bebas dari genangan air yang terus-menerus.

Manfaat

Metode SRI memiliki beragam manfaat dalam bidang pertanian. Tidak hanya meningkatkan produksi padi, SRI juga berkontribusi pada biodiversitas tanah, memperkuat resistensi tanaman terhadap hama dan meminimalisir penyerapan arsenik. Sebagai tambahan, SRI mendorong pelestarian varietas padi tradisional. Meski ribuan varietas tradisional telah punah, metode ini memberikan insentif finansial kepada petani untuk kembali menanam varietas lokal, asli, atau tradisional. Dengan SRI, produksi varietas-varietas ini tidak hanya lebih menguntungkan dari segi hasil, tetapi juga dari sisi biaya produksi. Varietas tradisional seringkali dihargai lebih tinggi di pasar karena selera konsumen, sehingga walaupun hasilnya mungkin tidak setara dengan varietas modern, keuntungannya bisa lebih besar. Manfaat lain dari SRI adalah peningkatan kualitas tanah dan air. Sebagai referensi, tabel di bawah menyajikan perbedaan antara manajemen tanaman padi SRI dan konvensional.

Tabel SRI vs Konvensional

KarakteristikSRIKonvensional
Umur bibitBibit yang lebih muda (10-15 hari)Bibit yang lebih tua (>20 hari)
Jarak tanamDitanam secara terpisah dengan jarak cukup lebar yaitu 25 x 25 cm, dengan pola persegi3 atau lebih bibit di tanam dalam satu lubang penanaman yang ditempatkan lebih dekat satu sama lain
IrigasiMenggunakan sistem intermiten untuk menjaga kondisi tanah tetap aerobikMenggunakan sistem tergenang dengan tanaman tetap terendam
Pengendalian gulmaPengendalian gulma secara mekanisPenggunaan herbisida
PupukPupuk organikPupuk kimia